Thursday, April 24, 2008

Be a Winner!

Jadilah seorang Pemenang! Prinsip itulah yang tengah saya bangun. Tentunya diperlukan mental seorang pemenang untuk menuju itu. Seorang pemenang tidaklah menang karena terpaksa oleh sistem, namun ia bisa membangun sistemnya sendiri. Seorang pemenang tidak akan melihat reward and punishment dalam mentaati sebuah peraturan. Ia akan bergerak sendiri mentaati peraturan yang ada tanpa embel-embel. Bahkan, cenderung menghalalkan segala cara. Kalau kata Donald Trump, yang ia perlukan adalah hasil. Persetan dengan cara. Yah, saya sich memaklumi aja cara dia. Maklum, ia dibentuk di negara kapitalis. Dan ini pun (mostly) terjadi di perusahaan-perusahaan asing. Beda dengan BUMN or PNS yang penuh toleransi. Begitu pun dengan fasilitas kantor. Gunakanlah fasilitas kantor sesuai dengan kepentingan kantor. Jangan dipakai pribadi. Misalnya, tipe-ex kantor jgn dibawa pulang. Kertas punya kantor jgn dibawa pulang juga. Korupsi tuh, dan seorang pemenang tidak akan mentolerir apapun bentuk KORUPSI!
Pagi ini, saya coba untuk menyelami itu. Be a winner. Saya membunuh kemalasan saya di pagi hari, Naik KRL Express jam 6.25 WIB, dapat duduk, sampai kantor sekitar jam 7.20 WIB, dan mulai menikmati hari Jumat. Thaks God today is Friday, and Friday is weekend for me.
But.....teteap chatting, ngenet, and cari vacancy job lewat internet yang notebene milik fasilitas kantor hehe.....

Tuesday, April 8, 2008

He is my Hero....

Hari Senin (07/04) yang lalu, semua orang sepakat bahwa di daerah Jakarta Utara dan Barat tengah dilanda kemacetan yang cukup dahsyat. Kemacetan itu sudah mulai dari siang hari. Penyebabnya lagi-lagi renovasi tol Jembatan Tiga yang terbakar gara-gara kampung miskin di bawah jalan tol tersebut terbakar (kenapa sich orang miskin selalu menyusahkan. Kalau ga mampu ya...minta di transmigrasi-kan saja sama pemerintah!). Dan renovasi tersbut memakan waktu 4-6 bulan dari sekarang. Bahkan, saat gw mau pulang kantor pun macetnya masih mendera. Ini lebih edan dari biasanya. Motor, yang doyan meliuk-liuk di sela-sela mobil atau ngembat trotoar bagi pejalan kaki, sudah ga punya lahan lagi buat dia ngembat. Stag habis!
Sore itu, gw menumpang pak Rohmat menuju stasiun Kampung Bandan untuk naik KRL AC Ekonomi pemberangkatan pkl.17.45 WIB. Bingung karena jalan yang biasa kita lalui udah stag berat, terpaksa kita cari alternatif. Akhirnya, gw bersama beliau memutuskan masuk ke dalam kawasan Ancol (gratis,bo.pegawai gitu loh...) melalui PGU Timur dan keluar melalui PGU Marina.Wush...wush...wush....pak Rohmat melaju cepat sekali dengan motor Jupiter-nya.Untung baju dan celana gw ga robek-robek kayak Komeng di iklan Yamaha. Waktu keberangkatan agak mepet. Belum salat ashar pula gara2 setan telah merasuki gw untuk segera pulang cepat (kenapa sich setan selalu merasuki pria tampan seperti gw ini.pasti setanya berjenis kelamin wanita.mmm......Marilyn Monroe mungkin).Dengan kekuatan penuh dan gaya kayak sembalap, pak Rohmat berhasil menghantarkan gw sampai tujuan, tapi kali ini ke stasiun KoTa. Melalui langka seribu bak sprinter kelas dunia, finally, gw mampu salat ashar dan dapat naik KRL AC Ekonomi. Dapat duduk pula (meskipun pada akhirnya terpaksa harus gw relakan kursi tersebut ke ibu-ibu yang agak renta usianya.sebenarnya sich agak ga rela.Tapi pengen nyombong di depan cw cakep di sebelah gw klo gw ini lelaki baik-baik.harusnya PT KA menyediakan tiga gerong, 1 khusus tua renta, 1 khusus wanita, dan 1 lagi khusus pria tampan macam gw ini.gagal deh tidur pulas di KRL huh...huh...).but,anyway,Thanks pak Rohmat.Beliau memang pahlawan gw hari itu.Selalu bisa hadir di tengah kesulitan gw.Untuk mengetahui perkenalan gw dengannya lebih jauh, butuh bab khusus untuk membahasnya...

Saturday, April 5, 2008

Laskar Pelangi dan Lintang

Jujur saja, saya ini termasuk orang yang moody dalam melakukan sesuatu hal, terutama belajar. Namun, sejak membaca Tetralogi Laskar Pelangi dan kisah Lintang di dalamnya, saya merasa telah memiliki kafein, atau bahkan opium untuk membangkitkan lagi semangat belajar saya. Kalau saya agak jenuh belajar atau rasa malas itu tumbuh, saya tidak segan untuk membuka novel Laskar Pelangi bab "Langit Ketujuh" dan "Elvis Has Left The Building" yang mengisahkan tentang Lintang (kalau ada yg belum tahu tentang Lintang, beli bukunya, terus baca!). Saya merasa berdosa sekali setelah membaca bab itu. ALLAH sudah memberikan karunia dan kesempatan yg lebih besar daripada Lintang, tapi kita menyia-nyiakannya (Kita?mungkin lebih tepatnya saya).