Akhir-akhir ini, saya mendengar berita yang agak mennyedihkan pasca kenaikan harga BBM, yakni kasus UNAS, UKI, dan Moestopo.
Let's begin from UNAS
UNAS
Kasus UNAS memang masih menjadi misteri siapa yang salah. Polisi, atau mahasiswa. Alasan polisi masuk ke kawasan kampus karena ingin menangkap mahasiswa-mahasiswa yang bertindak anarkis. Sedangkan, mahasiswa UNAS melakukan penyerangan ke polisi karena mereka dihalang-halangi untuk berdemo menentang kenaikan harga BBM. Untuk kasus ini, mahasiswa menjadi pihak yang paling menyedihkan. Pertama, ada beberapa mahasiswa yang terkena salah tangkap. Siapapun yang ada di lokasi, diciduk dulu. Kedua, terjadi pengrusakan kampus. Wah, tambah mahal aja biaya kuliah mahasiswa baru nantinya karena untuk menambah perbaikan kampus. Polisi?agaknya dalam pertarungan ini polisi mampu mengalahkan mahasiswa. Harusnya, mahasiswa jgn melemparkan botol-botol minuman dari bahan beling. Tapi botol-botol minuman dari bahan plastik. Kalau bisa yang masih ada segelnya. Pasti polisi senang deh. Mereka bukannya bawa tameng, tapi malah bawa karung buat ngumpulin tuh minuman. Dan dibagikan ke orang-orang di pinggir jalan.
UKI
Mereka membakar ban dan mem-blok jalan di depan kampus mereka. Polisi tidak mau membereskannya karena mereka tidak mau menimbulkan konflik. Yang paling menyedihkan dalam kasus ini adalah mereka-mereka yang menggunakan akses jalan tersebut, siapa pub itu. Teman kantor ada yang ga masuk karena akses jalannya terhambat. Dan terlambat kerja pun itu pasti karena macet berat. Pulang kantor, udah capek karena kerjaan, eh harus merasakan macet lagi. Kenapa sich harus bakar ban, ga bakar jagung aja. Pasti banyak yang senang.
MOESTOPO
Ini lebih anarkis. Polisi lagi lewat, eh dianiaya. Edan.... Ga ada comment lagi.
Dari 3 kasus ini, menunjukkan bahwa dimana seseorang belajar, itu akan mempengaruhi pola pikirnya. Ga ada khan PTN-PTN besar yang demo aneh-aneh karena mereka tahu bahwa kebijakan untuk menaikkan harga BBM sudah dipertimbangkan dengan matang dan jalan sulit yang harus ditentukan oleh pemerintah. Mm.......saya yakin setelah ini tingkat masuk mahasiswa/i di UNAS, UKI, dan Moestopo jadi turun karena mereka tidak ingin anaknya anarkis atau bertindak kriminal :-)
Tuesday, May 27, 2008
Sunday, May 11, 2008
UAN, and the story goes.....
Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SLTP telah selesai minggu lalu. Seperti biasa, selalu ada cerita menarik di balik berlangsungnya hajatan tersebut. Sejak berlangsungnya UAN tingkat SMU hingga SLTP, saya merupakan salah satu pengamat serius. Yang membuat saya sangat tertarik adalah tingkah laku guru-guru yang dengan sukarelanya membantu kelulusan muridnya, baik itu karena motif kasihan maupun terkandung unsur materil di dalamnya, dengan memberikan bocoran jawaban soal-soal UAN. Mulai dari koran ngetop seperti KOMPAS, hingga koran lokal macam NonStop tidak luput membahas masalah ini. Dari sekian banyak penggambaran cerita tentang peristiwa ini, yang paling keren dan seksi adalah versi koran Indopos (www.indopos.co.id). Saya lupa edisi tanggal dan hari apa karena saya membacanya pun saat sedang berkunjung ke rumah orang. Yang bikin saya tertarik adalah gaya bahasa dan sistematika penulisannya. Ceritanya begitu menghanyutkan. But overall, seandainya peristiwa ini dijadikan film saya yakin ga kalah keren deh dibandingkan film Dinner-Out (Brad Pitt), Black Hawk Down, Catct Me If You Can (Leonardo Di Caprio), atau Ocean Eleven (Brad Pitt, dkk). Maklum, tindak-tanduk yang dilakukan guru-guru tersebut dalam menyelamatkan muridnya sudah mirip mata-mata atau perampok (agak kasar tapi....saya bingung memilih kata-kata lainnya) nomor wahid.
Kalau kita flashback beberapa tahun silam, tepatnya tahun 1998 dan 2001 saat saya menghadapi UAN tingkat SLTP dan SMU (d/h masih bernama Ebtanas/Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), masalah ini tidak seakut seperti sekarang. Lebih teaptnya tidak menakutkan dan menegangkan Teman saya yang saat itu sempat mendapatkan bocoran soal bahkan mendapatkannya dari tempat ia mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) di luar sekolah. Guru-guru sangat melarang keras terjadinya tindak kejahatan seperti pencontekan dan kerjasama antar siswa (apalagi antar siswa-guru) saat berlangsungnya ujian. Keadaannya saat itu berbeda jauh dengan sekarang. Saat itu, kalau kita ga bandel-bandel amat, kita dengan mudah lulus. Ada dua sertifikat yang kita dapat, NEM (Nilai Ebtanas Murni) dan STTB (Surat Tanda Tamat Belajar). NEM menggambarkan nilai perolehan yang kita dapat selama mengikuti Ebtanas, sedangkan STTB merupakan nilai dari selama 3 tahun kita belajar. Khusus STTB, nilai diberikan oleh dewan guru. NEM diberikan untuk memberikan standar sekolah mana yang akan kita tuju. NEM SLTP digunakan untuk masuk ke SMU Negeri (kenapa saya sebut SMU Negeri karena SMU Swasta biasanya tidak terlalu mensyaratkan NEM yang tinggi namun seberapa besar uang sumbangan yang diberikan oleh wali murid ke pihak sekola), dan tanpa ujian lagi. Misal, NEM SLTP saya 39,50, sedangkan syarat minimal NEM SMU Negeri A minimal 38,00. So, otomatis saya lulus. Sedangkan NEM SMU digunakan oleh mereka-mereka yang ingin melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedinasan. Kalau yang mau ikut SPMB (d/h UMPTN) aja atau langsung kerja, NEM sich buat buat gaya-gayaan. Sementara itu, fungsi STTB untuk menentukan kelulusan. Seperti yang telah saya terangkan diatas bahwa nilai STTB diberikan oleh dewan guru, so....hampir semua murid lulus! Makanya, ga heran deh tuh kalau tiap mau menentukan kelulusan, ga sedikit dari wali murid yang melakukan lobi-lobi ke dewan guru supaya anaknya lulus. Beginilah keadaan pendidikan Indonesia 10 tahun yang lalu (sebenarnya sich tahun-tahun sebelumnya juga seperti yang saya alami, tapi......karena ga berdasarkan pengalaman pribadi, ga enak aja buat menceritakannya). Kelulusan bukan lah momok yang menakutkan. Hanya lewat saja. Namun, bukan berarti keadaaan masa lampau bersih dari “kejahatan”. Saya masih ingat bahwa saya telah melakukan kejahatan 2 kali, yakni saat SD dan SMU. Ebtanas SD, jawaban ujian dibagikan kepada semua murid yang sedang ujian, di dalam kelas. Ga pake ngumpet2an kayak sekarang. Trik-nya, guru pengawas diajak keluar sebentar oleh guru A, kemudian guru B masuk ke ruang ujian dan menyebarkan jawaban ujian melalui secarik kertas yang disebarkan secara marathon. Sederhana dan....efektif hehe.... Yang kedua, ini murni kejahatan saya. Yakni saat Ebtanas mata pelajaran Bahasa Inggris. Mengingat kemampuan Bahasa Inggris saya yang sangat mengenaskan, saya berkeinginan kuat untuk nyontek (bukan belajar.maklum, agak sia-sia hehe...) dari teman saya yang cukup jago bahasa Inggrisnya. Sebut saja namanya N (inisial sebenarnya). Dia keluar 15 menit sebelum waktu ujian selesai. Berhubung lokasi duduk saya dekat jendela, ia melemparkan secarik kertas yang sudah ditulis dengan jawaban-jawaban sama seperti dirinya dengan mudah. Dan.....saya mulai mengerjakan soal-soal (lebih tepatnya sich menyalin jawaban) ujian Bahasa Inggris hanya dalam waktu 15 menit terakhir. Keren.... Ok, back to the case. Tujuan awal dirubahnya sistem UAN adalah untuk meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Setiap tahun, standar kelulusan tersebut (indikatornya adalah nilai UAN) dinaikkan. Kalau peningkatan standar kelulusan didukung oleh peningkatan sarana dan prasarana pendukungnya sich gapapa. Lah sekarang, sudah biaya pendidikan makin mahal, mutu murid-muridnya juga makin dodol. Kalaupun ada berita baiknya ya.....saat putra-putri terbaik bangsa berhasil menggondol medali emas dari Olimpiade Eksakta. Itupun segelintir dari puluhan juta pelajar Indonesia. Kini, nilai UAN begitu ditasbihkan oleh mereka-mereka yang terlibat. Baik itu murid, wali murid, guru, hingga pejabat. Tidak lah heran berbagai cara dihalalkan untuk menggapai kelulusan. Mulai dari yang spiritual seperti istighosah bersama hingga melibatkan dewan guru menjadi aktor utama di dalamnya. Saya hanya berharap bahwa sistem ini terus berjalan namun disertai dengan pemerataan fasilitas pendidikan dan murahnya biaya. Kalau bisa sich.......biaya kuliah S2 juga disubsidi hehe.....(kalau ini kepentingan pribadi. Boleh dong berkahayal sedikir)
Kalau kita flashback beberapa tahun silam, tepatnya tahun 1998 dan 2001 saat saya menghadapi UAN tingkat SLTP dan SMU (d/h masih bernama Ebtanas/Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), masalah ini tidak seakut seperti sekarang. Lebih teaptnya tidak menakutkan dan menegangkan Teman saya yang saat itu sempat mendapatkan bocoran soal bahkan mendapatkannya dari tempat ia mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) di luar sekolah. Guru-guru sangat melarang keras terjadinya tindak kejahatan seperti pencontekan dan kerjasama antar siswa (apalagi antar siswa-guru) saat berlangsungnya ujian. Keadaannya saat itu berbeda jauh dengan sekarang. Saat itu, kalau kita ga bandel-bandel amat, kita dengan mudah lulus. Ada dua sertifikat yang kita dapat, NEM (Nilai Ebtanas Murni) dan STTB (Surat Tanda Tamat Belajar). NEM menggambarkan nilai perolehan yang kita dapat selama mengikuti Ebtanas, sedangkan STTB merupakan nilai dari selama 3 tahun kita belajar. Khusus STTB, nilai diberikan oleh dewan guru. NEM diberikan untuk memberikan standar sekolah mana yang akan kita tuju. NEM SLTP digunakan untuk masuk ke SMU Negeri (kenapa saya sebut SMU Negeri karena SMU Swasta biasanya tidak terlalu mensyaratkan NEM yang tinggi namun seberapa besar uang sumbangan yang diberikan oleh wali murid ke pihak sekola), dan tanpa ujian lagi. Misal, NEM SLTP saya 39,50, sedangkan syarat minimal NEM SMU Negeri A minimal 38,00. So, otomatis saya lulus. Sedangkan NEM SMU digunakan oleh mereka-mereka yang ingin melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedinasan. Kalau yang mau ikut SPMB (d/h UMPTN) aja atau langsung kerja, NEM sich buat buat gaya-gayaan. Sementara itu, fungsi STTB untuk menentukan kelulusan. Seperti yang telah saya terangkan diatas bahwa nilai STTB diberikan oleh dewan guru, so....hampir semua murid lulus! Makanya, ga heran deh tuh kalau tiap mau menentukan kelulusan, ga sedikit dari wali murid yang melakukan lobi-lobi ke dewan guru supaya anaknya lulus. Beginilah keadaan pendidikan Indonesia 10 tahun yang lalu (sebenarnya sich tahun-tahun sebelumnya juga seperti yang saya alami, tapi......karena ga berdasarkan pengalaman pribadi, ga enak aja buat menceritakannya). Kelulusan bukan lah momok yang menakutkan. Hanya lewat saja. Namun, bukan berarti keadaaan masa lampau bersih dari “kejahatan”. Saya masih ingat bahwa saya telah melakukan kejahatan 2 kali, yakni saat SD dan SMU. Ebtanas SD, jawaban ujian dibagikan kepada semua murid yang sedang ujian, di dalam kelas. Ga pake ngumpet2an kayak sekarang. Trik-nya, guru pengawas diajak keluar sebentar oleh guru A, kemudian guru B masuk ke ruang ujian dan menyebarkan jawaban ujian melalui secarik kertas yang disebarkan secara marathon. Sederhana dan....efektif hehe.... Yang kedua, ini murni kejahatan saya. Yakni saat Ebtanas mata pelajaran Bahasa Inggris. Mengingat kemampuan Bahasa Inggris saya yang sangat mengenaskan, saya berkeinginan kuat untuk nyontek (bukan belajar.maklum, agak sia-sia hehe...) dari teman saya yang cukup jago bahasa Inggrisnya. Sebut saja namanya N (inisial sebenarnya). Dia keluar 15 menit sebelum waktu ujian selesai. Berhubung lokasi duduk saya dekat jendela, ia melemparkan secarik kertas yang sudah ditulis dengan jawaban-jawaban sama seperti dirinya dengan mudah. Dan.....saya mulai mengerjakan soal-soal (lebih tepatnya sich menyalin jawaban) ujian Bahasa Inggris hanya dalam waktu 15 menit terakhir. Keren.... Ok, back to the case. Tujuan awal dirubahnya sistem UAN adalah untuk meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Setiap tahun, standar kelulusan tersebut (indikatornya adalah nilai UAN) dinaikkan. Kalau peningkatan standar kelulusan didukung oleh peningkatan sarana dan prasarana pendukungnya sich gapapa. Lah sekarang, sudah biaya pendidikan makin mahal, mutu murid-muridnya juga makin dodol. Kalaupun ada berita baiknya ya.....saat putra-putri terbaik bangsa berhasil menggondol medali emas dari Olimpiade Eksakta. Itupun segelintir dari puluhan juta pelajar Indonesia. Kini, nilai UAN begitu ditasbihkan oleh mereka-mereka yang terlibat. Baik itu murid, wali murid, guru, hingga pejabat. Tidak lah heran berbagai cara dihalalkan untuk menggapai kelulusan. Mulai dari yang spiritual seperti istighosah bersama hingga melibatkan dewan guru menjadi aktor utama di dalamnya. Saya hanya berharap bahwa sistem ini terus berjalan namun disertai dengan pemerataan fasilitas pendidikan dan murahnya biaya. Kalau bisa sich.......biaya kuliah S2 juga disubsidi hehe.....(kalau ini kepentingan pribadi. Boleh dong berkahayal sedikir)
Thursday, May 1, 2008
i'm so tired
Saya sungguh lelah. Benar-benar lelah. Hanya ALLAH sebaik-baiknya tempat untuk kembali. I love YOU more then anything...
Subscribe to:
Posts (Atom)