Sunday, August 10, 2008

Berfoya-foya di saat krisis uang cash...

Jujur saja, 2 minggu ini saya sedang krisis cash money karena transaksi pembelian tanah yang sudah saya ceritakan. Ternyata banyak biaya-biaya ini-itu dalam transaksi tersebut. Terkuraslah cash money saya dari tabungan. Untungnya biaya kursus LIA sudah saya bayar. Uang di ATM hanya Rp150.000,-. Dan tanggal 10 (yang notabene tanggal gajian) masih 1 minggu lagi. Terpaksa deh ga bisa malam minggu hanya untuk sekadar nongkrong di tukang bubur kacang ijo.

Namun, saat membuka dompet, tampak sebuah kartu dengan logo "BCA" yang sudah cukup lama tidak saya gunakan. Mm....sekali-kali merasakan kemewahan di kala susah seru juga. Bisa ngutang pula. Kalau kata slogan Blue Bird, "Why Pay Cash Instead of Credit" hehe... Namun, tempat-tempat yang bisa terima kartu kredit kan hanya tempat-tempat yang agak bonafid. Trus, saya tergoda dengan iklan Camdig SONY yang cuma Rp2 juta-an. Saya cuma tahu Sony Centre ya di MKG. Melajulah saya ke MKG ba'da maghrib dengan motor tercinta. Beberapa kedai kopi disana menerima kartu kredit. Pengen ke Pizza Hut antri. Di restoran Fast Food cuma menerima Flazz BCA. Wah, cari tempat yang agak mewah deh. Menghabiskan budget Rp100.000,- sendiri agaknya cukup feasible hehe... Tapi, saya teringat tujuan pertama saya. Beli Camdig. Sudah muterin MKG, kok ga ketemu-ketemu tuh SONY Centre. Nanya security, katanya lagi di renovasi tuh tempat. Ya wis, ke Best Denki aja deh. Pasti disana juga ada. Setelah lihat-lihat, ketemu deh tuh camdig SONY seperti yang diiklankan. Saya lupa seri-nya. Saya tanya kepada SPG-nya tentang spec.camdig SONY tersebut. 7.1 Megapixel, 4x optical zoom, bonus Memory Card 1 GB. Tertarik dong. Apalagi bisa pakai cicilan BCA dan bunga 0%. Transaksi hampir terjadi, namun mba SPG itu menawarkan saya merek yang lain, yakni Panasonic seri Lumix. Kata si mba SPG itu, dengan harga yang sama, saya bisa mendapatkan lebi. 8,1 Megapixel, 3x optical zoom, bonus Memory Card 2GB. Yang diunggulkan adalah lensanya menggunakan lensa LEICA. Kata mba'-nya lagi, kualitas hasil lensa LEICA lebih bagu dari Carl-Zeinss SONY. Ga percaya begitu saja dengan orang marketing (maklum, saya bekas orang marketing. Masak bisa ditipu sama orang marketing juga hehe...), saya minta diberikan bukti. Mba' SPG mengambil 2 buah baterei untuk menghidupkan kedua camdig tersebut. Dia bilang coba bandingkan. Saya mengarahkan kedua camdig tersebut ke arah mba' SPG dalam waktu yang bersamaan dan jarak yang bersebelahan. Benar saja, ternyata kualitas LEICA lebih bagus. Kalau pakai camdig SONY, muka tuh mba' SPG tampak halus. Namun, saat saya tangkap dengan camdig Panasonic, jerawat-jerawat sang SPG tampak terlihat jelas hehe... Tanpa tunggu lama, transaksi terjadi. Dengan kartu kredit BCA pastinya. Namun sayang, karena saking lakunya tuh camdig, saya masih harus inden dan sabtu nanti baru bisa saya ambil. Gpp deh..

Hari semakin malam, kaki belum mau beranjak pulang. Nonkrong lah sebentar di La Piazza sambil menikmati Live Music. Cari tempat ngopi yang bisa terima credit card di sekitar sana. Ternyata ada. Lumayan, bisa ngutang lagi hihi....

Saya baru tahu mengapa banyak orang yang terjerat oleh hutang credit card. Ternyata, ngutang itu enak ya haha.... Dan tanggal 10 & 25 bulan ini, saya akan mulai mencicil dan masuk ke dalam jaring hutang. Gpp lah. Insya ALLAH bulan depan uang THR yang 2x gaji dah menunggu untuk diguyurkan ke BCA dalam rangka melunasi hutang-hutang saya. Setidaknya, saya masih bisa berfoya-foya meski dalam kondisi sulit sekalipun hehe...

Akhirnya, Saya Memiliki Sebidang Tanah...

Alhamdulillah, pada akhirnya saya memiliki sebidang tanah. Ya, tanah itu berbentuk bidang, bukan berbukit-bukit atau berundak-undak seperti di daerah pegunungan. Tanahnya tidak luas hanya 67 m2 (8 x 8,5 m). Namun, bisa di-extended lagi ke belakang. Insya ALLAH tahun depan mau nambah 60-100 m2 lagi. Yah, pelan-pelan lah. Semua ada tahapannya. Lokasinya tidak jauh dari rumah orang tua saya sekarang. Tidak kurang dari 50 m. Diluar alasan karena dekat sama orang tua (kalau dah punya anak dan suami-istri sama-sama kerja, bisa dititipin ke orang tua hihi...). Sebenarnya cukup bimbang juga apakah saya harus kuliah dulu atau nikah dahulu. Namun, karena tahun depan saya berencana untuk menikah (minimal lamaran dulu deh), saya utamakan membeli tanah dulu. Ya, inilah bukti keseriusan saya to marry someone inside. Saya memang tidak pandai merayu lagi berkata-kata. Saya hanya coba untuk merealisasikan rencana dan mimpi-mimpi kita. Tidak sempurna memang. Namun, bukankah cara yang sempurna lebih penting dari hasilnya. Ini lah puisi tanpa intonasi. Rayuan tanpa kata-kata. Dialah salah satu tujuan hidup saya. Dan saya akan mengejarnya, mempertahankannya, hingga merealisasikan keinginannya. You are my sunshine, my only sunshine. When skies are grey, you are still shinning me. Please, don't take her away from me. Sudah lah, jangan lah berkata-kata, Ded. Kan sudah kau bilang bahwa kau tak pandai berkata-kata. Yang pasti, saya sangat mencintainya.

But anyway, berikut ini alasan-alasan saya memilih tanah di lokasi tersebut:

1. Lokasi hanya 10-15 menit dari Sta.Bekasi (sudah termasuk lari-lari ngejar-ngejar kereta)

2. Lokasi hanya 10-15 menit dari Segitiga emas Bekasi (Met Mall, Giant, Bekasi Cyber Park, Carrefour)

3. Lokasi hanya 10-15 menit dari Tol Bekasi Barat.

4. Bebas banjir, air tanah masih bisa diminum, dan dekat rumah ortu...

"Karir" pertamaku ikut CPNS..

Rabu kemarin (30/-7/08), saya melakukan "karir" pertama saya untuk ujian CPNS. Berlokasi di Senayan, saya prediksi pesertanya sekitar 40 ribu orang (asumsinya, setengah dari Gelora Senayan terisi peserta dan jarak antara satu peserta dengan peserta lainnya agak renggang). Di hari yang hariusnya lengang, senggang, dan santai itu, Senayan dipenuhi oleh puluhan ribu orang berdandan rapi, necis, demi mengejar sebuah karir, PNS Departemen Keuangan (Depkeu) Gol.III/A.

Biasanya, saya enggan untuk ikut ujian/test model begini. Cuapek and males untuk daftar. Namun, kerena proses pendaftarannya cukup mudah dan demi mengejar "takdir" saya menjadi pegawai Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), terpaksa dijalani juga. Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik.

Beginilah rekonstruksi kejadian:

05.50 WIB : Berangkat dari rumah dengan sepeda motor ke daerah Galaxy, Bekasi. Biasa, nebeng teman. Coz, kalau naik bis, udah padat banget dari pagi. Sebelum beranjak dari rumah, cium tangan bonyok dulu. Minta do'a restu.

06.05 WIB : Menuju Senayan.......

06.50 WIB : Keluar pintu tol depan KOMDAK. Supaya ga muter-muter, kita memutuskan masuk lewat pintu masuk di Jalan Asia-Afrika. Wuih...ternyata macet euy. Setelah ditelisik penyebabnya, ternyata mobil ga boleh masuk lewat situ. Terpaksa semua peserta harus di drop disana. Kita beruntung cuma sekadar diantar, so ga perlu cari parkiran hehe...

07.15 WIB : Turun di pintu dan jalan kaki ke dalam. Gpp lah, itung2 olahraga pagi-pagi. Cuma, menurut petunjuk panitia, peserta sudah harus di lokasi duduknya pada pukul 07.30 WIB. Mudah-mudahan tuh cari tempat duduknya ga repot.

07.40 WIB : Sudah duduk di lokasi. Tertera nama dan nomor ujian saya. Kotor banget tempat duduknya. Clingak-clinguk, ga ada tukang tisu. Terpaksa dialasi pakai kertas.

Tegang menunggu detik-detik menentukan.....

08.30 WIB : Ujian dimulai. Ada 4 bagian soal. Bagian pertama soal Verbal. Bagian ke-2 soal Kuantitatif. Bagian ke-3, wah lupa nama jenis soalnya. Tapi, soal cerita gitu deh. Bagian ke-4, soal bahasa inggris. Bagian ke-1, ada 85 soal, waktu cuma 20 menit! Damn! Saya cuma berhasil mengerjakan 65 soal. Kalau waktu sudah habis, kita ga boleh balik lagi mengerjakan bagian 1. Langsung beranjak ke bagian ke-2, soal-soalnya agak rumit. Maklum, udah lama ga belajar matematika dasar. Terpaksa banyak main tembak. Karena waktu yang tersisa cukup banyak, sambil mencuri-curi pandang, sikat lagi bagian 1. Wah, sisa-sisa soal yang belum dikerjakan tentang Pengetahuan Umum gitu. Untungnya saya rajin baca koran. Sikat habis boy 85 soal..... Bagian ke-3 bikin kepala agak pegal karena soal cerita gitu. Mana waktunya cuma sedikit pula. Tapi alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan tepat waktu. Beranjak ke bagian 4. Modelnya soal cerita juga dan translate dari bahasa inggris ke bahasa indonesia. Karena malas membaca paragraph yang cukup banyak, saya lebih memilih soal translate terlebih dahulu. Cukup mudah. Translate-nya tentang gagalnya negara-negara berkembang dalam mengentaskan pengangguran. Karena waktu semakin mepet, soal-soal ceritanya terpaksa nembak. Lebih tepatnya ga ngerti. Pengen nyontek kanan-kiri dan bawah, mm....tampakny tampang mereka kurang meyakinkan hehe...

10.40 WIB : Ujian selesai. Tenang dan banyak-banyak berdoa. Semua soal diisi meskipun mm....seperempat sampai setengahnya nembak.

10.50 WIB : Nelpon bokap kalau ujian sudah selesai. Minta do'a-nya pasti.

***********************************************************

Inilah karir pertama saya ikut ujian CPNS. Semoga langsung berhasil. Mm...seru juga. Dipertimbangkan untuk ikut CPNS lainnya hehe.... Tapi, ga deh.kasian penganguran-pengangguran lainnya. Kasih kesempatan aja buat mereka. Bapepam, I'm coming...

Saatnya Ku Menjemput "Takdirku"...

Kemarin (14/07/08), saya resmi mendaftar untuk ikut ujian CPNS Depkeu. Alhamdulillah, semua begitu dimudahkan oleh-Nya. Tes akan dilangsungkan pada tanggal 30 Juli 2008, dan pengumuman lokasi bisa diakses melalui website resmi Depkeu pada tanggal 25 Juli-nya.

Frankly, ini bagaikan sebuah rangkaian mozaik-mozaik penuh mimpi. Kita flashback mulai 7 tahun ke belakang.

Saya mulai memasuki jenjang bangku kuliah pada tahun 2001. Awalnya kuliah di FMIPA Fisika UNILA. Namun, karena sesuatu hal, memaksa saya untuk balik lagi ke Jakarta. Lumayan lah, di Lampung jadi anak kost selama 2 minggu. Pilihan jatuh ke STAN Analis Efek. Dari sanalah saya benar-benar digembleng dan fokus untuk menekuni dunia pasar modal. Saat masih kuliah dulu, saya sangat mendambakan kerja di sebuah sekuritas ternama seperti Danareksa Sekuritas. Kayaknya keren,euy. Setelah lulus kuliah pada tahun 2004, atau bahkan sebelum lulus pun, impian itu menjadi kenyataan. Saya mulai aktif bekerja di Danareksa pada bulan Agustus 2008. Takdir pertama memanggilku....

Kejenuhan bekerja menjadi broker mulai menjemukan. Ingin rasanya pindah haluan. Dalam struktur pasar modal yang ringkas, ada 4 pihak yang terlibat, investor, broker/MI/Underwriter, Regulator dan SRO (Bapepam, KSEI, BEI, dll), dan emiten. Mungkin salah satunya dapat menjadi piliha. Bekerja sebagai investor relation di emiten kayaknya ok juga. Apalagi ada client saya yang jadi salah satu investon relation di sebuah emiten sektor migas yang sering jalan-jalan ke luar negeri buat "jualan" perusahaannya. Wuih...keren banget. Di suatu malam, saat saya sedang kuliah S1, ada klien saya yang juga seorang investor relation di sebuah emiten sektor poariwisata menelpon. Dia minta saya untuk mengajukan lamaran sebagai asistennya. Setelah melalui serangkaian tes masuk, akhirnya saya diterima sebagai investor relation staff di perusahaan saya hingga saat ini setelah genap 2 tahun berkarir di Danareksa Sekuritas. Takdir kedua memanggilku....

Saya hobi bertualang. Dan rasa bertualang itu juga merembet ke masalah pekerjaan. Setelah mencicipi diri sebagai investor, broker, investor relation, mungkin enak kali ya kalau bekerja di regulator. Ilmu saya jd lengkap dan bertambah. Namun, apa daya, untuk menjadi regulator harus terlebih dahulu menjadi pegawai Departemen Keuangan. Uh....agak sulit karena kita tidak mungkin apply langsung kesana untuk mengajukan diri sebagai pegawai. Kalaupun sudah diterima di Depkeu, belum tentu kita ditempatkan di Bapepam-LK. Bisa saja di direktorat lainnya. Namun, setelah lama menunggu, munculah "undangan" itu. Depkeu buka lowongan dan saya memilih unit kerja Bapepam-LK. Kartu tes/ujian sudah didapat, belajar TPA dari sekarang, dan siap-siaplah ku menjemput takdirku yang ketiga. Atas izin-Nya tentu...

Life is so beautiful....

Tuesday, May 27, 2008

Saya menyadari kenapa PTN lebih diminati.... (terkait kasus UKI dan Mestopo)

Akhir-akhir ini, saya mendengar berita yang agak mennyedihkan pasca kenaikan harga BBM, yakni kasus UNAS, UKI, dan Moestopo.
Let's begin from UNAS
UNAS
Kasus UNAS memang masih menjadi misteri siapa yang salah. Polisi, atau mahasiswa. Alasan polisi masuk ke kawasan kampus karena ingin menangkap mahasiswa-mahasiswa yang bertindak anarkis. Sedangkan, mahasiswa UNAS melakukan penyerangan ke polisi karena mereka dihalang-halangi untuk berdemo menentang kenaikan harga BBM. Untuk kasus ini, mahasiswa menjadi pihak yang paling menyedihkan. Pertama, ada beberapa mahasiswa yang terkena salah tangkap. Siapapun yang ada di lokasi, diciduk dulu. Kedua, terjadi pengrusakan kampus. Wah, tambah mahal aja biaya kuliah mahasiswa baru nantinya karena untuk menambah perbaikan kampus. Polisi?agaknya dalam pertarungan ini polisi mampu mengalahkan mahasiswa. Harusnya, mahasiswa jgn melemparkan botol-botol minuman dari bahan beling. Tapi botol-botol minuman dari bahan plastik. Kalau bisa yang masih ada segelnya. Pasti polisi senang deh. Mereka bukannya bawa tameng, tapi malah bawa karung buat ngumpulin tuh minuman. Dan dibagikan ke orang-orang di pinggir jalan.
UKI
Mereka membakar ban dan mem-blok jalan di depan kampus mereka. Polisi tidak mau membereskannya karena mereka tidak mau menimbulkan konflik. Yang paling menyedihkan dalam kasus ini adalah mereka-mereka yang menggunakan akses jalan tersebut, siapa pub itu. Teman kantor ada yang ga masuk karena akses jalannya terhambat. Dan terlambat kerja pun itu pasti karena macet berat. Pulang kantor, udah capek karena kerjaan, eh harus merasakan macet lagi. Kenapa sich harus bakar ban, ga bakar jagung aja. Pasti banyak yang senang.
MOESTOPO
Ini lebih anarkis. Polisi lagi lewat, eh dianiaya. Edan.... Ga ada comment lagi.

Dari 3 kasus ini, menunjukkan bahwa dimana seseorang belajar, itu akan mempengaruhi pola pikirnya. Ga ada khan PTN-PTN besar yang demo aneh-aneh karena mereka tahu bahwa kebijakan untuk menaikkan harga BBM sudah dipertimbangkan dengan matang dan jalan sulit yang harus ditentukan oleh pemerintah. Mm.......saya yakin setelah ini tingkat masuk mahasiswa/i di UNAS, UKI, dan Moestopo jadi turun karena mereka tidak ingin anaknya anarkis atau bertindak kriminal :-)

Sunday, May 11, 2008

UAN, and the story goes.....

Ujian Akhir Nasional (UAN) tingkat SLTP telah selesai minggu lalu. Seperti biasa, selalu ada cerita menarik di balik berlangsungnya hajatan tersebut. Sejak berlangsungnya UAN tingkat SMU hingga SLTP, saya merupakan salah satu pengamat serius. Yang membuat saya sangat tertarik adalah tingkah laku guru-guru yang dengan sukarelanya membantu kelulusan muridnya, baik itu karena motif kasihan maupun terkandung unsur materil di dalamnya, dengan memberikan bocoran jawaban soal-soal UAN. Mulai dari koran ngetop seperti KOMPAS, hingga koran lokal macam NonStop tidak luput membahas masalah ini. Dari sekian banyak penggambaran cerita tentang peristiwa ini, yang paling keren dan seksi adalah versi koran Indopos (www.indopos.co.id). Saya lupa edisi tanggal dan hari apa karena saya membacanya pun saat sedang berkunjung ke rumah orang. Yang bikin saya tertarik adalah gaya bahasa dan sistematika penulisannya. Ceritanya begitu menghanyutkan. But overall, seandainya peristiwa ini dijadikan film saya yakin ga kalah keren deh dibandingkan film Dinner-Out (Brad Pitt), Black Hawk Down, Catct Me If You Can (Leonardo Di Caprio), atau Ocean Eleven (Brad Pitt, dkk). Maklum, tindak-tanduk yang dilakukan guru-guru tersebut dalam menyelamatkan muridnya sudah mirip mata-mata atau perampok (agak kasar tapi....saya bingung memilih kata-kata lainnya) nomor wahid.
Kalau kita flashback beberapa tahun silam, tepatnya tahun 1998 dan 2001 saat saya menghadapi UAN tingkat SLTP dan SMU (d/h masih bernama Ebtanas/Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), masalah ini tidak seakut seperti sekarang. Lebih teaptnya tidak menakutkan dan menegangkan Teman saya yang saat itu sempat mendapatkan bocoran soal bahkan mendapatkannya dari tempat ia mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) di luar sekolah. Guru-guru sangat melarang keras terjadinya tindak kejahatan seperti pencontekan dan kerjasama antar siswa (apalagi antar siswa-guru) saat berlangsungnya ujian. Keadaannya saat itu berbeda jauh dengan sekarang. Saat itu, kalau kita ga bandel-bandel amat, kita dengan mudah lulus. Ada dua sertifikat yang kita dapat, NEM (Nilai Ebtanas Murni) dan STTB (Surat Tanda Tamat Belajar). NEM menggambarkan nilai perolehan yang kita dapat selama mengikuti Ebtanas, sedangkan STTB merupakan nilai dari selama 3 tahun kita belajar. Khusus STTB, nilai diberikan oleh dewan guru. NEM diberikan untuk memberikan standar sekolah mana yang akan kita tuju. NEM SLTP digunakan untuk masuk ke SMU Negeri (kenapa saya sebut SMU Negeri karena SMU Swasta biasanya tidak terlalu mensyaratkan NEM yang tinggi namun seberapa besar uang sumbangan yang diberikan oleh wali murid ke pihak sekola), dan tanpa ujian lagi. Misal, NEM SLTP saya 39,50, sedangkan syarat minimal NEM SMU Negeri A minimal 38,00. So, otomatis saya lulus. Sedangkan NEM SMU digunakan oleh mereka-mereka yang ingin melanjutkan ke Sekolah Tinggi Kedinasan. Kalau yang mau ikut SPMB (d/h UMPTN) aja atau langsung kerja, NEM sich buat buat gaya-gayaan. Sementara itu, fungsi STTB untuk menentukan kelulusan. Seperti yang telah saya terangkan diatas bahwa nilai STTB diberikan oleh dewan guru, so....hampir semua murid lulus! Makanya, ga heran deh tuh kalau tiap mau menentukan kelulusan, ga sedikit dari wali murid yang melakukan lobi-lobi ke dewan guru supaya anaknya lulus. Beginilah keadaan pendidikan Indonesia 10 tahun yang lalu (sebenarnya sich tahun-tahun sebelumnya juga seperti yang saya alami, tapi......karena ga berdasarkan pengalaman pribadi, ga enak aja buat menceritakannya). Kelulusan bukan lah momok yang menakutkan. Hanya lewat saja. Namun, bukan berarti keadaaan masa lampau bersih dari “kejahatan”. Saya masih ingat bahwa saya telah melakukan kejahatan 2 kali, yakni saat SD dan SMU. Ebtanas SD, jawaban ujian dibagikan kepada semua murid yang sedang ujian, di dalam kelas. Ga pake ngumpet2an kayak sekarang. Trik-nya, guru pengawas diajak keluar sebentar oleh guru A, kemudian guru B masuk ke ruang ujian dan menyebarkan jawaban ujian melalui secarik kertas yang disebarkan secara marathon. Sederhana dan....efektif hehe.... Yang kedua, ini murni kejahatan saya. Yakni saat Ebtanas mata pelajaran Bahasa Inggris. Mengingat kemampuan Bahasa Inggris saya yang sangat mengenaskan, saya berkeinginan kuat untuk nyontek (bukan belajar.maklum, agak sia-sia hehe...) dari teman saya yang cukup jago bahasa Inggrisnya. Sebut saja namanya N (inisial sebenarnya). Dia keluar 15 menit sebelum waktu ujian selesai. Berhubung lokasi duduk saya dekat jendela, ia melemparkan secarik kertas yang sudah ditulis dengan jawaban-jawaban sama seperti dirinya dengan mudah. Dan.....saya mulai mengerjakan soal-soal (lebih tepatnya sich menyalin jawaban) ujian Bahasa Inggris hanya dalam waktu 15 menit terakhir. Keren.... Ok, back to the case. Tujuan awal dirubahnya sistem UAN adalah untuk meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Setiap tahun, standar kelulusan tersebut (indikatornya adalah nilai UAN) dinaikkan. Kalau peningkatan standar kelulusan didukung oleh peningkatan sarana dan prasarana pendukungnya sich gapapa. Lah sekarang, sudah biaya pendidikan makin mahal, mutu murid-muridnya juga makin dodol. Kalaupun ada berita baiknya ya.....saat putra-putri terbaik bangsa berhasil menggondol medali emas dari Olimpiade Eksakta. Itupun segelintir dari puluhan juta pelajar Indonesia. Kini, nilai UAN begitu ditasbihkan oleh mereka-mereka yang terlibat. Baik itu murid, wali murid, guru, hingga pejabat. Tidak lah heran berbagai cara dihalalkan untuk menggapai kelulusan. Mulai dari yang spiritual seperti istighosah bersama hingga melibatkan dewan guru menjadi aktor utama di dalamnya. Saya hanya berharap bahwa sistem ini terus berjalan namun disertai dengan pemerataan fasilitas pendidikan dan murahnya biaya. Kalau bisa sich.......biaya kuliah S2 juga disubsidi hehe.....(kalau ini kepentingan pribadi. Boleh dong berkahayal sedikir)

Thursday, May 1, 2008

i'm so tired

Saya sungguh lelah. Benar-benar lelah. Hanya ALLAH sebaik-baiknya tempat untuk kembali. I love YOU more then anything...